Memalukan, ketika melihat diri ini bertatap muka dengan selembar kertas yang penuh dengan coretan dengan berfondasikan kebutuhan sebuah formalitas.
Begitu sulit ketika mendiaminya, tatkala dunia dalam imaji masih mengumbar sebuah rasa yang sepertinya tak ada guna dengan tak beranjak pergi dan meninggalkan persefsi formalitas ini.
“Sungguh sayang jika terlewatkan” terkutip perkataan dari orang yang katanya bijak, menyentil imajiku agar terbangun dari hal-hal fiktif yang terus bersemi dalam ruang dunia persefsiku.
Tetapi anehnya ada kesan sayang jika hendak meninggalkan imaji yang telah terbangun selama ini, karena aku masih sebuah cermin yang dihadapkan ke sebuah cermin lainnya yang hasilnya tak bisa melihat apa lagi menilai keadaan dari diri sendiri.
Mungkin termasuk labil, mungkin juga termasuk kegagalan dalam beredukasi. Semua proses kemungkinan ini bisa terjadi.
Kegalauanku makin menemukan klimaksnya, ketika semeliwir angin bersabda di diameter telingaku kananku tentang “Apa yang menantimu di hari esok?? Apakah hanya kematian???????”
Nampaknya angan pula yang bersiap membunuhku dengan segala hasutan yang pernah terlewatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar