Menapakan kaki tuk berbagi dengan orang-orang mati.
Berjalan menelusuri irama api, di garis introgatif menuju alam terlewat mimpi.
Begitu mewah sambutan seribu tanduk merah, menyambut dengan rasa haus yang tak usah diratapi.
Mereka yang menunggu kita berbuat salah, menunggu kita melanggar semua aturan keluh kesah dogma yang tersesali.
Ini dunia-Nya, dunia dimana kematian hanya siksaan yang sudah terlewatkan karena kebosanan.
Terlewat dari busuk,
Terlewat dari jerat pahitnya kehidupan.
TERTAPAKI,
Semakin meresap,
Semakin teratapi tubuh kita terhisap ke dalam aroma dosa kelekar tubuh yang sudah tak bermakna.
Dan lagi-lagi, batu nisan menjadi saksi perekap mimpi sebuah raga yang pernah melintas di bumi.
Begitu pula dengan CINTA manusia.
Hahaha...
Tak pernah jera kita terlangkur oleh kedua sisinya, walau setiap baitnya berhembus aroma dosa dan DUSTA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar