
Serpihan Hati Pribumi
Di jalan ini kami bergurau
Di bawah tatapan burung elang yang enggan menikam
Kau hanya duduk tertawa
Melihat kami pribumi tak bercelana
Yang merengek rengek di atas panasnya aspal jalanan
Semua itu menjadi tak lebih berarti
Ketika kau berkata akan ada perubahan
Apa yang kami dapat hanya kemaluan
Yang berujung hilangnya kepercayaan.
Bukan hanya tuhan yang menjadi saksi
Tapi iblis pun tak mau meludah ke arah mu
Mungkin hatimu sudah menjadi batu
Yang terdapat ukiran tinta hitam
Bertuliskan “aku di atas derajat mu”
Oh tuhan
Masih adakah tempat bagi nya kelak.
