Rabu, 04 April 2012

Melewati


Menapakan kaki tuk berbagi dengan orang-orang mati.
Berjalan menelusuri irama api, di garis introgatif menuju alam terlewat mimpi.
Begitu mewah  sambutan seribu setan yang menyambut dengan rasa haus yang tak usah diherankan.
Mereka yang Menunggu kita berbuat salah, menunggu kita melanggar semua aturan keluh kesah dogma yang tersesali.
Ini dunia-Nya, dunia dimana kematian hanya siksaan yang sudah terlewatkan karena kebosanan.
Terlewat dari busuk,
Terlewat dari jerat pahitnya kehidupan.
Tertapaki,
Semakin meresap,
Semakin teratapi tubuh kita terhisap ke dalam aroma dosa kelekar tubuh yang sudah tak bermakna.
Dan lagi-lagi, batu nisan menjadi saksi perekap mimpi sebuah raga yang telah melintas di bumi ini.

Sabtu, 14 Januari 2012

Semua Berawal dari Diri Kita Sendiri


Mangenal diri sendiri adalah rumusan yg sulit untuk di mengerti,apa lagi ketika cermin dunia mulai lari dari bayang kita sendiri,
entah dia yg lari atau kita yg menjauh,
mungkin butuh proses,
mungkin juga butuh sentuhan akan some thing yg mengilas balikan kenyataan,.
dari semua itu timbulah pertanyaan, sesuatu apakah yg mampu membuat kita berkaca diri???kesalahankah???kebenarankah???atau ke egoisan kita kah yg membuat kita lari dan lupa akan diri kita sendiri..
tuhan terlalu baik menciptakan kita hidup ditengah pertanyaan-pertanyaan klasik,dan tuhan mempunyai skenario di sela-sela tanda tanya akan sebuah pengertian raga si penghirup angan..
sampai jenuh,
sampai bosan,
memang inilah kehidupan..sampai kering senyum ini tuk merasakan kenyataan bahwa memang hidup kadang menyakitkan oleh orang lain dan diri kita sendiri..
KITA MULAI DARI DIRI KITA SENDIRI, SIAPAKAH KITA?????????????????


Titik Berat Imajiku


Memalukan, ketika melihat diri ini bertatap muka dengan selembar kertas yang penuh dengan coretan dengan berfondasikan kebutuhan sebuah formalitas. 
Begitu sulit ketika mendiaminya, tatkala dunia dalam imaji masih mengumbar sebuah rasa yang sepertinya tak ada guna dengan tak beranjak pergi dan meninggalkan persefsi formalitas ini. 
“Sungguh sayang jika terlewatkan” terkutip perkataan dari orang yang katanya bijak, menyentil imajiku agar terbangun dari hal-hal fiktif yang terus bersemi dalam ruang dunia persefsiku.
Tetapi anehnya ada kesan sayang jika hendak meninggalkan imaji yang telah terbangun selama ini, karena aku masih sebuah cermin yang dihadapkan ke sebuah cermin lainnya yang hasilnya tak bisa melihat apa lagi menilai keadaan dari diri sendiri. 
Mungkin termasuk labil, mungkin juga termasuk kegagalan dalam beredukasi. Semua proses kemungkinan ini bisa terjadi.
 Kegalauanku makin menemukan klimaksnya, ketika semeliwir angin bersabda di diameter telingaku kananku tentang “Apa yang menantimu di hari esok?? Apakah hanya kematian???????”
Nampaknya angan pula yang bersiap membunuhku dengan segala hasutan yang pernah terlewatinya. 

Dua Sisi yang Sama


Menapakan kaki tuk berbagi dengan orang-orang mati.
Berjalan menelusuri irama api, di garis introgatif menuju alam terlewat mimpi.
Begitu mewah  sambutan seribu tanduk merah, menyambut dengan rasa haus yang tak usah diratapi.
Mereka yang menunggu kita berbuat salah, menunggu kita melanggar semua aturan keluh kesah dogma yang tersesali.
Ini dunia-Nya, dunia dimana kematian hanya siksaan yang sudah terlewatkan karena kebosanan.
Terlewat dari busuk,
Terlewat dari jerat pahitnya kehidupan.
TERTAPAKI,
Semakin meresap,
Semakin teratapi tubuh kita terhisap ke dalam aroma dosa kelekar tubuh yang sudah tak bermakna.
Dan lagi-lagi, batu nisan menjadi saksi perekap mimpi sebuah raga yang pernah melintas di bumi.
Begitu pula dengan CINTA manusia.
Hahaha...
Tak pernah jera kita terlangkur oleh kedua sisinya, walau setiap baitnya berhembus aroma dosa dan DUSTA.

Selasa, 29 Maret 2011

Lukisan

 
Lukisan dalam bahasa Inggris ialah ‘Drawing’ yang asalnya dari dua bahasa iaitu German dan Latin. Perkataan ‘to draw’ adalah dari perkataan ‘Old English’ iaitu ‘dragan’ yang bermaksud ‘to drag’ dan aktiviti yang berhubung dan tubuh badan.

Beberapa buku menyatakan lukisan adalah aktiviti melukis yang menggunakan bahan kering atau basah untuk mendapatkan kesan rupa dan bentuk pada sesuatu permukaan.

Lukisan juga boleh dikaitkan dengan pengalaman yang istimewa kepada seseorang pelukis yang digambarkan melalui gerak minda dan hati diterjemahkan di atas permukaan untuk dijadikan sebagai bahan dokumentasi. Ini terbukti dengan sebuah lukisan bertajuk ‘Unforgettable Fire’ yang dilukis oleh pelukis amatur iaitu Yusuko Yagamata di Jepun pada tahun 1945 menggambarkan peristiwa pengeboman Bandar Hiroshima.

Secara langsung lukisan adalah satu disiplin seni yang boleh dikaitkan dengan keperluan psikologi sejarah dan artistik. Hal ini terbukti bahawa pelukis perlu mempunyai tiga nilai kerangka dalam dirinya iaitu daya visualisai, daya emosi dan daya estetika.

Sebenarnya lukisan bukanlah milik mutlak pelukis, tetapi ia adalah milik semua manusia. Pengalaman anak-anak kecil menconteng di atas kertas atau dinding merupakan fitrah manusia melukis sebagai meluahkan perasaan dalam bentuk visualisasi.

Ini juga ada kaitnya dengan perjumpaan lukisan-lukisan purba di gua-gua, lukisan itu menjadi faktor penentu kepada pemujaan untuk pemburuan. Manusia zaman dahulu menggunakan lukisan sebagai asas untuk kekuatan tumpuan mereka kepada mencari nafkah.

Pada dinding zaman Mesir purba, lukisan dijadikan sebagai rakaman penghidupan. Lukisan digambarkan dalam satu penceritaan komik yang bersiri untuk meninggalkan satu dokumentasi sejarah yang gemilang.
Menurut Betti dan Sale (1997), secara umumnya empat kepentingan lukisan, antaranya ialah:
a. Tujuan untuk penyelidikan, kajian dan untuk melihat sesuatu peristiwa yang sebenar,
b. Tujuan untuk merakamkan sesuatu peristiwa.
c. Tujuan sebagai alat komunikasi idea (mencari idea yang terbaik)
d. Sebagai data menyimpan memori kepada pelukis untuk menghasilkan satu karya yang terbaik.

Karya lukisan yang dihasilkan biasanya menggunakan media jenis kering. Karya lukisan merupakan kerja peringkat awal yang dibuat untuk menghasilkan catan. Karya lukisan mementingkan unsur garisan untuk membentuk imej dan tidak menggunakan warna, kecuali warna daripada alat tulis seperti pensel warna atau krayon. Lukisan biasanya dihasilkan secara sepontan serta dapat menunjukkan keaslian dan keindividuan gaya persembahan pelukisnya.

Minggu, 06 Februari 2011

Terikat

Keluh di tengah kenyataan terpahit,,
Tidurkan mahluk dengan hitamnya cobaan dari sang khalik..

Seperti Himpitan nafas yg mencari lubang..
Seperti itulah ku berlari dari kesunyian..

Dari untaian mana ku harus memulai,, dengan apa ku harus berucap...
Hanya kau lah sang maha arti dari sgala arti,, yg bernyanyi di penjuru seisi hati..

Ku berdoa SEMOGA..

Pencarian blog